Knowledge Management
Manajemen pengetahuan (knowledge management) ialah
suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi atau perusahaan untuk
mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan
untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi.
Kegiatan ini biasanya terkait dengan objektif organisasi dan ditujukan untuk
mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja,
keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi.
Konsep manajemen pengetahuan ini meliputi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) dalam tujuannya untuk mencapai organisasi perusahaan yang semakin baik sehingga mampu memenangkan persaingan bisnis. Perkembangan teknologi informasi memang memainkan peranan yang penting dalam konsep manajemen pengetahuan. Hampir semua aktivitas kehidupan manusia akan diwarnai oleh penguasaan teknologi informasi, sehingga jika berbicara mengenai manajemen pengetahuan tidak lepas dari pengelolaan.
Pada perkembangan ini menunjukan makin cepatnya perubahan dalam segala bidang kehidupan, akibat dari efek globalisasi serta perkembangan teknologi informasi yang sangat akseleratif. Kondisi ini jelas telah mengakibatkan perlunya cara-cara baru dalam menyikapi semua yang terjadi agar dapat tetap survive. Penekanan akan makin pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu respon dalam menyikapi perubahan tersebut, dan ini tentu saja memerlukan upaya-upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan SDM.
Sehubungan dengan itu peranan ilmu pengetahuan menjadi makin menonjol, karena hanya dengan pengetahuanlah semua perubahan yang terjadi dapat disikapi dengan tepat. Ini berarti pendidikan memainkan peran penting dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dan kompetitif. Ketatnya kompetisi secara global khususnya dalam bidang ekonomi telah menjadikan organisasi usaha memikirkan kembali strategi pengelolaan usahanya, dan SDM yang berkualitas dengan penguasaan pengetahuannya menjadi pilihan penting yang harus dilakukan dalam konteks tersebut.
Mengutip pendapat Henczel dalam Singh (2007), Cut Zurnali
mengemukakan bahwa untuk mendefinisikan knowledge benar-benar
sulit sebagaimana menggabungkan banyak intangibles
seperti pengalaman
(experience), intuisi (intuition), pertimbangan (judgement),
keahlian (skill), dan pelajaran yang dipelajari (lessons learned),
yang secara potensial memperbaiki berbagai tindakan. Knowledgemerupakan
keadaan kognitif pikiran yang dicapai dengan menggabungkan pemahaman dan
kognisi (understanding and cognition). Hal ini sering ditunjukkan
sebagai penyusunan dan pendokumentasian knowledge seperti patents, databases, manuals, reports,procedures, dan white papers.
Terdapat beberapa definisi manajemen
pengetahuan, yang dirangkum Singh dalam Cut Zurnali (2008), yaitu:
1. Menurut Dimttia dan Oder (2001),
manajemen pengetahuan adalah mengenai penggalian dan pengorganisasian
pengetahuan untuk mengembangkan organisasi yang menguntungkan dan lebih
efisien. Secara terperinci Dimttia dan Oder memaparkan bahwa manajemen
pengetahuan merupakan proses menangkap keahlian kolektif organisasional, di
mana pun pengetahuan tersebut berada, baik di dalam database, pada paper-paper,
atau di kepala orang, dan kemudian mendistribusikan pengetahuan tersebut ke
mana pun agar dapat menghasilkan pencapaian yang terbesar.
2. Menurut Wiig (1999), manajemen
pengetahuan adalah bangunan sistematis, eksplisit dan disengaja, pembaharuan,
dan aplikasi pengetahuan untuk memaksimalkan efektivitas yang berkenaan dengan
pengetahuan organisasi dan pengembalian kembali aset pengetahuan organisasi.
3. Menurut Townley (2001), manajemen
pengetahuan adalah seperangkat proses menciptakan dan berbagi pengetahuan ke
seluruh organisasi untuk mengoptimalkan pencapaian misi dan tujuan organisasi.
Jadi, manajemen pengetahuan adalah mengenai meningkatkan penggunaan pengetahuan
organisasional melalui praktik-praktik manajemen informasi dan pembelajaran
organisasi untuk mencapai keunggulan kompetetitif dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan pendapat-pendapat Denise
(2007), Nonaka and Takeuchi (1995), Sarvary (1999), Choo (1998), Davenport et
al. (1998), dan Zarifian (1999), Cut Zurnali (2008) mencoba mengungkap model
konseptual sistem knowledge management. Model yang dikemukakan memperhitungkan
pengetahuan individual (individual knowledge) sebagai starting point bagi
penciptaan pengetahuan keorganisasian . Dan sejak informasi telah menjadi bahan
dasar (raw material) dari pegangan pengetahuan individual, maka ia merupakan
landasan dasar dari organisasi pengetahuan (knowledge organization). Cut
Zurnali (2008) menambahkan bahwa pengetahuan individual yang muncul merupakan
kombinasi dari informasi, interpretasi, refleksi, dan pengalaman dalam sebuah
konteks yang pasti (certain context). Selanjutnya perlu dipertimbangkan juga
pentingnya mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang ada.
Oleh sebab itu, menurut Cut Zurnali (2008), pengetahuan individual diciptakan ketika informasi berjalan melalui proses internal yang mencakup interpretasi, refleksi dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang ada pada individu sehingga dapat diaplikasikan ke dalam situasi atau konteks baru. Agar mendorong individu memproses informasi untuk menciptakan pengetahuan, maka setiap proses pembelajaran harus punya arti. Sebuah sudut pandang yang jelas dari pengetahuan untuk dikembangkan merupakan sebuah keharusan untuk menstimulasi komitmen pada penciptaan dan pengoperasian pengetahuan tersebut. Pandangan bersama bekerja sebagai sebuah "mental map" yang menuntun para individu dalam tiga area yang berkorelasi, yaitu:
1. The world in which they live (dunia
tempat mereka hidup);
2. The world in which they must live
(dunia tempat mereka harus hidup); dan
3. Knowledge that needs to be developed
in order to follow the pathway between these two worlds (pengetahuan yang perlu
untuk dikembangkan agar untuk mengikuti lorong antara kedua dunia tempat mereka
hidup dan dunia tempat mereka harus hidup).
Lebih lanjut Cut Zurnali (2008) menambahkan bahwa untuk menciptakan pengetahuan organisasional maka pengetahuan individual (yang terdiri dari dua dimensi: a tacit dimension dan an explicit dimension) harus dieksternalisasikan. Penciptaan pengetahuan organisasional terjadi melalui konversi yang dikombinasikan dari setiap kedua dimensi, jadi mempromosikan pembelajaran kelompok dan penyebaran kepada seluruh level organisasional. Proses pentransformasian informasi ke dalam pengetahuan ditempatkan dalam tingkat internal individual, mencakup reflection, interpretation dan connection untuk later practical experimentation dalam konteks tepat.
Usaha keras organisasi untuk mengumpulkan dan menyediakan informasi tidak menjamin pemrosesan dan akses individual, oleh karena itu, tindakan yang menstimulasi akses dan menyebabkan pemrosesan informasi merupakan dasar dalam perputaran setiap tindakan praktis ke dalam perilaku alamiah untuk dimasukkan ke dalam sebuah budaya organisasional (the organisational culture). Pengetahuan individual harus ditransfer kepada individu dan kelompok lain agar dapat mempromosikan pengetahuan organisasional. Untuk ditransfer, pengetahuan harus dieksternalisasikan dengan memilikinya dan diinternalisasikan dengan kekurangannya, dengan penerapan utamanya pada tacit knowledge, sehinggai para kompetitor sulit menirunya. Nonaka and Takeuchi (1995) dalam Cut Zurnali (2008) menyatakan, transformasi pengetahuan individual ke dalam pengetahuan organisasional terjadi melalui sosialisasi (socialization), eksternalisasi (externalization), internalisasi (internalization) dan kombinasi (combination). Oleh karena itu setiap proses dapat menempatkan transformasi pengetahuan tersebut dari orang ke orang dan dari kelompok ke kelompok.
Oleh karena itu menurut Cut Zurnali (2008) tujuan dari knowledge management adalah untuk mengimplementasikan tindakan agar dapat memasok landasan pengetahuan organisasional yang untuk selanjutnya dapat mempromosikan pencapaian dari proses ketika landasan dari model konseptual knowledge management ditujukan. Menurut Cut Zurnali (2008), Model konseptual knowledge management menyajikan enam phase dari pelajaran pengetahuan yaitu:
1. Penciptaan arti atau visi bersama
dari tujuan pengembangan pengetahuan;
2. Penyediaan informasi;
3. Penginduksian pemrosesan internal
bagi penciptaan pengetahuan individual;
4. Pengkonversian pengetahuan
individual ke dalam pembelajaran kelompok;
5. Penyebaran pengetahuan ke level
organisasional lainnya; dan
6. Pengaplikasian pengetahuan secara
praktis
Menurut Cut Zurnali (2008), cakupan yang muncul dari knowledge management secara luas memfokuskan pada tiga arus utama: Landasan pengetahuan (the nature of knowledge), aspek-aspek manajerial dan organisasional dari implementasinya (the organizational and managerial aspects of its implementation), dan cara dan maksud penciptaan dan penggunaan sistem pengelolaan pengetahuan (the ways and means of creating and utilizing knowledge management Systems).
Mengacu pada pendapat Nonaka and Takeuchi (1995), Day (2005), Jashapara (2005), dan Gupta, et. al.(2005), Cut Zurnali menambahkan bahwa arus the nature of knowledge diterima sebagai perbedaan antara eksplisit dan implisit dari pengetahuan. Porsi yang baik dari penelitian dalam knowledge management mengonsentrasikan pada cara ketika organisasi dapat mengekstrak dan menggunakan implicit knowledge. Arus aplikasi dan pengimplementasian manajerial dan organisasional pengetahuan dalam organisasi juga telah menaruh perhatian para periset. Sedikit model yang diajukan menggambarkan aliran pengetahuan dalam pengaturan organisasional.
Berdasarkan pendapat-pendapat Holsapple and Jones (2004, 2005), Rubenstein and Geisler (2003), dan Muthusamy and Palanisamy (2004), Cut Zurnali (2008) mengemukakan bahwa model rantai pengetahuan yang lebih advance yang menggambarkan aktivitas primer dan sekunder dari pengetahuan. Aktivitas primer meliputi, pembelian, penyeleksian, penghasilan, dan pengeluaran pengetahuan sedangkan aktivitas sekunder mencakup, pengukuran, pengontrolan, pengkoordinasiaan, dan kepemimpinan pengetahuan. Dalam model yang dikemukakan, disajikan usaha pengombinasian kedua kategori ini dari manfaat aktivitas organisasi dengan meningkatkan daya saing dalam lingkungan organisasi. Arus ke tiga, memfokuskan pada penciptaan, pengimplementasian dan penggunaan knowledge management systems, dipandang secara utama sebagai sebuah topik organisasi dari adopsi dan adaptasi, aliran penelitian ini juga mencakup pengujian pertambahan nilai dari adopsi dan pemanfaatan knowledge management systems.
Sistem Pakar (Expert System) dalam
Knowledge Management
Sistem pakar (expert system)
merupakan salah satu teknologi andalan dalam knowledge management, terutama
melalui empat alur skema penerapan atau aplikasi dalam suatu organisasi, yaitu:
1. Case-based reasoning (CBR) yang
merupakan representasi knowledge berdasarkan pengalaman, termasuk kasus dan
solusinya;
2. Rule-based reasoning (RBR)
mengandalkan serangkaian aturan-aturan yang merupakan representasi dari
knowledge dan pengalaman karyawan/manusia dalam memecahkan kasus-kasus yang
rumit yang sedang dihadapi;
3. Model-based reasoning (MBR) melalui
representasi knowledge dalam bentuk atribut, perilaku, antar hubungan maupun
simulasi proses terbentuknya knowledge;
4. Constraint-satisfaction reasoning
yang merupakan kombinasi antara Rule-based reasoning (RBR) dan Model-based
reasoning (MBR).
Di dalam konfigurasi yang demikian, dimungkinkan pengembangan knowledge management di salah satu unit organisasi dokumentasi dan informasi dalam bentuk:
1. Proses mengoleksi,
mengorganisasikan, mengklasifikasikan, dan mendiseminasikan (menyebarkan)
knowledge ke seluruh unit kerja dalam suatu organisasi agar knowledge tersebut
berguna bagi siapapun yang memerlukannya,
2. Kebijakan, prosedur yang dipakai
untuk mengoperasikan database dalam suatu jaringan intranet yang selalu
up-to-date,
3. Menggunakan ICT (Information and
Communication Technology) yang tepat untuk menangkap knowledge yang terdapat di
dalam pikiran individu sehingga knowledge itu bisa dengan mudah digunakan
bersama dalam suatu organisasi,
4. Adanya suatu lingkungan untuk
pengembangan aplikasi sistem pakar (expert systems);
5. Analisis informasi dalam databases,
data mining atau data warehouse sehingga hasil analisis tersebut dapat segera
diketahui dan dipakai oleh lembaga,
6. Mengidentifikasi kategori knowledge
yang diperlukan untuk mendukung lembaga, mentransformasikan basis knowledge ke
basis yang baru,
7. Mengkombinasikan pengindeksan,
pencarian knowledge dengan pendekatan semantics atau syntacs,
8. Mengorganisasikan dan menyediakan
know-how yang relevan, kapan, dan bila mana diperlukan, mencakup proses,
prosedur, paten, bahan rujukan, formula, best practices, prediksi dan cara-cara
memecahkan masalah. Secara sederhana, intranet, groupware, atau bulletin boards
adalah sarana yang memungkinkan lembaga menyimpan dan mendesiminasikan knowledge,
9. Memetakan knowledge (knowledge
mapping) pada suatu organisasi baik secara on-line atau off-line, pelatihan,
dan perlengkapan akses ke knowledge.
Birkinsaw dalam Cut Zurnali (2008) juga menggaris bawahi tiga keadaan yang sangat memengaruhi berhasil atau tidaknya knowledge management yaitu:
1. Penerapannya tidak hanya
menghasilkan knowledge baru, tetapi juga untuk mendaur-ulang knowledge yang
sudah ada.
2. Teknologi informasi belum sepenuhnya
bisa menggantikan fungsi-fungsi jaringan sosial antar anggota organisasi.
3. Sebagian besar organisasi tidak
pernah tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui, banyak knowledge penting yang
harus ditemukan lewat upaya-upaya khusus, padahal knowledge itu sudah dimiliki
sebuah organisasi sejak lama.
Dengan demikian, knowledge management
akan membuat berbagi informasi (shared information) tersebut menjadi
bermanfaat. Knowledge management termasuk strategi dari tanggung jawab dan
tindak lanjut (commitment), baik untuk meningkatkan efektivitas organisasi
maupun untuk meningkatkan peluang/kesempatan.
Tujuan
dari knowledge management
adalah meningkatkan kemampuan organisasi untuk melaksanakan proses inti lebih
efisien. Davenport et.al (1988) dalam Cut Zurnali (2008) menjelaskan sasaran
umum dari sistem knowledge management dalam praktik adalah sebagai berikut:
1. Menciptakan knowledge: Knowledge
diciptakan seiring dengan manusia menentukan cara baru untuk melakukan sesuatu
atau menciptakan know-how. Kadang-kadang knowledge eksternal dibawa ke dalam
organisasi/institusi;
2. Menangkap knowledge: Knowledge baru
diidentifikasikan sebagai bernilai dan direpresentasikan dalam suatu cara yang
masuk akal dan dapat dicerna;
3. Menjaring knowledge: Knowledge baru
harus ditempatkan dalam konteks agar dapat ditindaklanjuti. Hal ini menunjukkan
kedalaman manusia (kualitas tacit) yang harus ditangkap bersamaan dengan fakta
explicit;
4. Menyimpan knowledge: Knowledge yang
bermanfaat harus dapat disimpan dalam format yang baik dalam penyimpanan
knowledge, sehingga orang lain dalam organisasi dapat mengaksesnya atau menggunakannya;
5. Mengolah knowledge: Sebagaimana
sebuah perpustakaan (library), knowledge harus dibuat up-to-date. Hal tersebut
harus di review untuk menjelaskan apakah knowledge tersebut relevan atau
akurat.
6. Menyebarluaskan knowledge: Knowledge
harus tersedia dalam format yang bermanfaat untuk semua orang atau anggota
dalam organisasi yang memerlukan knowledge tersebut, di mana pun dan tersedia
setiap saat.
Tipe Proyek Manajemen Pengetahuan
Studi yang dilakukan oleh Davenport (Davenport & De Long 1999) mengidentifikasi
empat tipe besar proyek manajemen pengetahuan terkait pada titik tekan yang
dimilikinya:
1. Menciptakan simpanan pengetahuan
Penekanannya adalah pada menangkap
pengetahuan dan untuk memperlakukan pengetahuan sebagai suatu entitas yang
terpisah dari orang-orang yang menciptakan dan menggunakannya. Maka yang
dilakukan adalah membuat dokumen yang berisi pengetahuan yang telah direkam dan
menyimpannya di suatu simpanan di mana dia bisa dengan mudah diakses.
2. Meningkatkan akses terhadap pengetahuan dan transfer
atasnya
Menekankan pada aktivitas penyediaan
akses ke pengetahuan atau memfasilitasi transfer pengetahuan antar individu.
Dalam hal ini, kesulitannya biasanya terletak pada bagaimana menemukan orang
dengan pengetahuan yang dibutuhkan dan lalu secara efektif mentransfernya ke
orang lainnya. Hal ini juga akan tergantung pada peningkatan kapabilitas
teknologi organisasi bersangkutan. Aktivitas dari proyek ini biasanya berbasis
komunal, semisal berbentuk: komunitas online atau komunitas tatap muka,
workshop, seminar, sistem konferensi video desktop, scan dokumen dan perangkat
berbagi lainnya.
3. Menyuburkan lingkungan pengetahuan
Proyek ini terkait aktivitas
membangun lingkungan berkontribusi untuk penciptaan, penyebaran, dan penggunaan
pengetahuan yang lebih efektif. Aktivitas yang tercakup di sini semisal
pembentukan kesadaran dan pembudayaan perhatian terkait pentingnya berbagi pengetahuan.
Termasuk juga di dalamnya adalah bagaimana mengubah perilaku dan memberikan
insentif untuk berbagi pengetahuan.
4. Mengelola pengetahuan sebagai suatu aset
Fokusnya di sini adalah pada
memperlakukan pengetahuan sebagaimana aset lain di neraca keuangan. Namun sifat
pengetahuan yang tidak secara konkret berwujud memang membuatnya sangat sus
Jenis Penerapan Knowledge Management
Perbedaan yang paling signifikan di antara jenis knowledge
ialah tacit versus explicit (Nonaka dan Takeuchi, 1995). Di dalam organisasi
explicit knowledge tidak menjadi masalah karena mudah didokumentasikan,
diarsipkan, dan diberi kode. Di lain pihak, tacit knowledge merupakan suatu
tantangan tersendiri karena pengetahuan sering kali dirasakan sangat berharga
untuk dibagikan dan digunakan dengan cara yang tepat. Pemahaman akan perbedaan
kedua jenis knowledge ini sangatlah penting, dan yang perlu diperhatikan juga
adalah aplikasinya dengan cara yang berbeda untuk memindahkan jenis knowledge
yang berbeda.
1. Tacit Knowladge
1. Tacit Knowladge
Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal,
dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan
dikomunikasikan (Carrillo et al.,2004). Tacit knowledge tidak dinyatakan dalam
bentuk tulisan, melainkan sesuatu yang terdapat dalam benak orang-orang yang
bekerja di dalam suatu organisasi.
Menurut Polanyi (1966) tacit knowledge secara umum
dijabarkan sebagai:
1.Pemahaman dan aplikasi pikiran bawah sadar
1.Pemahaman dan aplikasi pikiran bawah sadar
2. Susah untuk diucapkan
3. Berkembang dari kejadian langsung dan pengalaman
4. Berbagi pengetahuan melalui percakapan (story-telling)
Berdasarkan pengertiannya, maka tacit knowledge
dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain pengetahuan yang
diperoleh dari individu (perorangan).
1.1. Personal Knowledge
1.1. Personal Knowledge
Menurut Berkeley (1957, p. 23) pengetahuan manusia bermula
pada saat orang mendapatkan ide dimana kesan tersebut muncul dari perasaan dan
sistem kerja pikiran atau dengan kata lain ide dibentuk dengan bantuan dari
memori dan imajinasi yang menambah, membagi, mengungkapkan perasaan sebenarnya.
Selanjutnya menurut Bahm (1995, p. 199) penelitian pada sifat dasar pengetahuan seketika mempertemukan perbedaan antara knower dan known, atau seringkali diartikan dalam istilah subject dan object, atau ingredient subjective dan objective dalam pengalaman. Pengalaman yang diperoleh tiap karyawan tentunya berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi. Definisi experience yang diambil dari kamus bahasa Inggris adalah the process of gaining knowledge or skill over a period of time through seeing and doing things rather than through studying. Yang artinya proses memperoleh pengetahuan atau kemampuan selama periode tertentu dengan melihat dan melakukan hal-hal daripada dengan belajar.
Davenport dan Prusak dalam Martin (2010, p. 2) mendefinisikan personal knowledge is a fluid mix of framed experience, values, contextual information and expert insight that provides a framework for evaluating and incorporating new experiences and information.” Secara garis besar, berarti gabungan dari pengalaman, nilai – nilai, informasi kontekstual, dan wawasan luas yang menyediakan sebuah kerangka pengetahuan untuk mengevaluasi dan menggabungkan pengalaman – pengalaman daninformasi yang baru.Menurut Martin (2010), personal knowledge didapat dari instruksi formal dan informal. Personal knowledge juga termasuk ingatan, story-telling, hubungan pribadi, buku yang telah dibaca atau ditulis, catatan, dokumen, foto, intuisi, pengalaman, dan segala sesuatu yang dipelajari, mulai dari pekarangan hingga pengembangan nuklir.
2. Explicit Knowledge
Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah
untuk dikomunikasikan dan dibagi
(Carrillo et al., 2004). Menurut pernyataan Polanyi (1966) pada saat tacit knowledge
dapat dikontrol dalam benak seseorang, explicit knowledge justru harus
bergantung pada pemahaman dan aplikasi secara tacit, maka dari itu semua
pengetahuan berakar dari tacit knowledge. Secara umum explicit knowledge dapat
dijabarkan sebagai:
1.
Dapat
diucapkan secara tepat dan resmi
2. Mudah
disusun, didokumentasikan, dipindahkan, dibagi, dan dikomunikasikan
Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya secara independent.
Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya secara independent.
Elemen Pokok Knowledge
1. People
Yang berarti Knowledge Management berasal dari orang. People
merupakan bentuk dasar untuk membentuk knowledge baru. Tanpa ada orang tidak
akan ada knowledge.
2.
Technology
Merupakan infrastruktur teknologi
yang standar, konsisten, dan dapat diandalkan dalam mendukung alat-alat
perusahaan.
3. Processes
Yang terdiri dari menangkap, menyaring, mengesyahkan,
mentransformasikan, dan menyebarkan knowledge ke seluruh perusahaan dilengkapi
dengan menjalankan prosedur dan proses tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar